Tuesday, 24 September 2013

Kuhabiskan Perasaan

Diantara angin yang syahdu
dan karang yang membatu
kuhabiskan perasaan ini dimanisku
Ombak laut mengepung pulau
menjadi saksi bisu ketika kukejar waktu
Kini, aku lelah dengan sesuatu
tapi kusingkirkan keluhku
biar mereka tahu aku tak begitu

Bandarlampung, Selasa, 24 September 2013

Monday, 23 September 2013

Dunia Malam

Pada malam yang pelupa
Dini hari tanpa nama
Gelap masih mendekap dunia
Ada banyak cerita diluar sana
Serupa bianglala
Utasan hidup bias merona
Jalan panjang belum ada ujungnya
Syair alam beretorika
Menenggelamkan semua nestapa
Tapi aku disini merajut asa
Menunggu kelam bercerita
Dunia malam memang tak sama

Bandarlampung, 23 September 2013

Sunday, 22 September 2013

Aku Merasakanmu

Aku merasakanmu lewat sajak
barangkali engkau bersembunyi dibalik kata
Aku menandaimu lewat simbol
barangkali engkau berada diantara kalimat
Aku mencarimu dalam paragraf
barangkali engkau ada diantara tanda baca
Aku menggapaimu dalam harapan
barangkali engkau hadir dalam mimpiku
Aku mengasihimu dalam ada dan ketiadaan
tapi aku tak pernah lelah bersamamu
Aku menantimu bersama takdir
Tuhan Maha Tahu

Bandarlampung, 16 September 2013

Dijiwamu Berlabuh

Ketika bias merengkuh
Kutanggalkan keluh
Dijiwamu berlabuh
Kesucian yang tak tersepuh

Bandarlampung, 12 September 2013

Sekuntum Bahasa

Sekuntum bahasa yang tak pernah layu
Singgah dan enggan beranjak berlalu
Mereka mewarnainya dengan rindu
Dialah satu
Terpahat dalam sanubariku

Bandarlampung, 8 September 2013

Doa Perjuangan Hidup

Sajak ini doa
menampung keluh kesah
menjagamu agar kau tak pernah merasa
terkungkung sendirian dan ditinggalkan
Aku telah belajar merasakan
lautan keperihan dalam keluasan jiwamu
tentang kesedihan dan perjuangan hidup
Namun, aku juga dapat merasakan
kesejukan dan keindahan
yang lebih ajaib dari indahnya dunia fanah
Sebait kata yang disebut kenangan
telah membukakan lamur padaku
tentang sebuah arti
tanpa pernah merasa kehilangan

Bandarlampung, 7 September 2013

Judulnya "Merayu"

Datanglah padaku
Usah ragu
Bawa sekeranjang rindu
dan setumpuk cintamu
Kutunggu didepan pintu
Pintu hatiku selalu terbuka untukmu
Ini judulnya “merayu”
Bukan begitu, Dindaku?
Kalau salah maafkan aku
Jika benar bilang setuju

Bandarlampung, 21 September 2013

Penanda

Diantara kerumunan kata
kutemukan penanda; esok atau lusa
Sekeping kenangan usang
 kusematkan pada desau yang merona
Sebait asa meresah belum kunjung ke persinggahannya
Ini elegi entah Dinda bawa ke mana
Tapi, hati tetap melarungkan doa
Tepian itu pasti ada

Bandarlampung, 4 September 2013

Pengembara Rimba Aksara





Aku hanyalah
pengembara di rimba aksara
Serupa pelangi
Penyuka keheningan
Pendengar nyanyian jangkrik dan binatang malam
Penggemar alunan hujan 
yang bergemericik di setiap lembar tetesnya
Aku ingin menjadikan larik kata menjadi bermakna
Kupersembahkan keindahannya untukmu, Dindaku.

Bandarlampung, 3 September 2013

Kecapung Malam

Kecapung malam belum pernah lupa menaruh kepaknya agar dia masih bisa terbang hinggap dipinggir trotoar dan ditepi jalan diantara pojok warung dan cafe dalam remang, keramaian dan kesunyian. Kecapung malam kepaknya amat berguna pemantik binatang malam lain untuk berlabuh menghabiskan sisa kelam di pojok hari yang belum berperi. Kecapung malam ada kalanya berlabuh diranting patah dan yang terluka atau hanya sekedarnya saja kemudian pergi meninggalkan trotoar dan jalan menanggalkan sebuah cerita. Bandarlampung, 17 September 2013

Hening

Hening dalam hamparan diam. Satu kata lesap melupa makna. Keping masa belum usai terjelajah. Kuingin menyandarkan letih ini dijenggala indah matamu. Bandarlampung, 3 September 2013

Rentang Waktu

Rentang waktu terkadang membuat kita lupa bahwa kita semakin dewasa. Rentang waktu terkadang membuat kita lupa bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa. Rentang waktu terkadang membuat kita sadar bahwa kita hanya manusia yang tak punya apa-apa selain jasad yang tak berguna. Rentang waktu terkadang membuat kita sadar bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa melainkan hati yang ada di dalam dada dan amal jasad yang lata. Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda tergantung dalam keadaan apa kita berada Namun Tuhan telah berkata, “Hanya Akulah yang tahu umur manusia”. Sekular barat berkata, “Waktu adalah dollar di dalam kantung” Namun Hasan Al-Bana berkata, “Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”. Waktu, setiap detaknya semoga tak melalaikan kita untuk terus berjalan di jalan-Nya. Hotel Andalas Bandarlampung, 22 Agustus 2013

Jangan Ditaruh Didepan Pintu

Sendu, syahdu, pilu, tak ada yang tahu. Biar kau ramu semua itu jadi satu. Jangan engkau taruh didepan pintu. Tak perlu ditunggu. Itu tabu. Biarkan semuanya berlalu. Sekitar Teluk Lampung, 23 Oktober 2012