Friday, 20 July 2012

Gairahku

Pernahkah engkau bayangkan rangkaian mimpi yang kupahat di temburam langit. Itu wujud rinduku yang luruh dalam hening, tenggelam dalam kerik jangkerik malam ini.

Pernahkah dirimu bayangkan, pada malam terselip gairahku yang membara dan melupakan kecewa dan dusta yang telah menyayat sembilu.

Pernahkah kau bayangkan, di setiap rentang waktu yang riuh, kurekat erat binar mata dan bayangmu. Dalam kelam dan sepinya malam, kutitip harap dirimu untuk selalu mengingatku.

Bandarlampung, 9 Juli 2012

Mengingatmu

Sadarkah engkau, hadirmu seperti terbingkai luruh di relung hatiku, merekat erat dalam ingatan dan takkan kulepas lagi sampai tak jemuh-jemuh.

Sadarkah, kalau diriku terlanjur menjaga hati yang selama ini tersangkut di asamu dan terukir di sanubari tanpa musti berandai-andai.

Sadarkah dirimu, jika kecewa itu hanya emosi yang tak beralasan untuk selalu mengingatmu. Karena harapan masih terbentang tanpa ilalang.

Bandarlampung, 9 Juli 2012

Getar Jiwamu

Walau lewat angin lalu, bisa kulukiskan kegamangan kasihmu dalam guratan yang meliuk-liuk dan tak terbaca agar tidak semua orang tahu.

Walau lewat angin lalu, hatiku dapat meraba getar yang ada dijiwamu, tanpa harus diungkapkan dengan kata manis yang sebenarnya tak bisa juga untuk pemanis kopi.

Walau lewat angin lalu, dapat kurasakan lirih nafas jiwamu yang lama gelisah, lelah meradang serta berusaha untuk terlepas dari kungkungannya.

Bandarlampung, 13 Juli 2012

Jalan Pikiran

Percayakah engkau kalau di setiap lekuk hati ini terlukis dirimu seperti prasasti keramat yang tak bisa ternoda khianat dan terbakar api cemburu.

Percayakah kau, jika di setiap jejak langkahku tertapak keinginan untuk selalu dekat dengan dirimu dan menepis angkara yang menyesatkan jalan pikiranmu.

Percayakah dirimu bila berharap itu bukan dosa dan aku tak pernah berhenti mengharap agar semuanya baik-baik saja.

Bandarlampung, 2012