Gelisah merejam
Rindu yang kejam
Hasrat yang kusam
Hati keruh menghitam
Berandai selalu suram
Sepi mencekam
Friday, 7 October 2011
Rindu Usang
Rindu yang usang
Di hati gersang
Untuk apa lagi dikenang
Bagiku berpantang
Agar tak terkekang
Dipikiran dibuang
Sinar Banten, 2011
Di hati gersang
Untuk apa lagi dikenang
Bagiku berpantang
Agar tak terkekang
Dipikiran dibuang
Sinar Banten, 2011
Kelakar Sang Ratu
Kelakar yang terburai
Sekedar sesembah Sang Ratu
yang baru terbangun dari tidurnya
Di atas permadani yang kusam
Hatinya legam
Sang Ratu kesepian
Renungi kesendirian
Angannya bertengger
di atas awan jingga
Hatinya membiru
Sinar Banten, 2011
Sekedar sesembah Sang Ratu
yang baru terbangun dari tidurnya
Di atas permadani yang kusam
Hatinya legam
Sang Ratu kesepian
Renungi kesendirian
Angannya bertengger
di atas awan jingga
Hatinya membiru
Sinar Banten, 2011
Anak Lelaki Pertama
Malam jam dua
Suasana sepi dan dingin
Diluar sana, suara jangkrik isyaratkan sesuatu
Di sebuah pondok tua
Peninggalan orangtua Ayah
Sejak dulu memang begitu
Hanya redup-redup
Cahaya sinar lampu duduk
Kala itu
Terdengar tangis pertamaku
Waktu itu Rabu Legi
Beberapa puluh tahun silam
Suara tangisku
Seperti juga suara jangkrik
Terdengar membelah malam
Ibuku coba membujuk
Diusapnya kening hingga kepalaku
Kurasakan belaiannya
Mataku berat sempat terpejam
Lalu aku tertidur
Namun cuma sebentar
Daku terbangun dan menangis lagi
Ibuku resah
Gelisah akan diriku
Tapi bunda tak tahu harus berbuat apa
Kemudian ibu berpaling
(Dalam hati beliau berkata: “Suamiku dimana?”)
Sedari tadi, ibu tidak melihat ayah
Dia mungkin lupa
Malam ini bapak tak pulang
Mungkin besok
Ibu lupa menghitung waktu
Ketika ia palingkan muka dan menatapku
Kubujuk ibu dengan tangisku
(Raut wajahnya berubah sedih
dan tampak gunda)
kembali ibu membelaiku
dengan lirih beliau berucap:
“Anakku. Ayahmu belum juga pulang, Nak...”
Ibu pasrah
- Tanjung Sejaro, OI, Sumatera Selatan
September dan Oktober 1996
- Lampung, 22 Agustus 2011
Suasana sepi dan dingin
Diluar sana, suara jangkrik isyaratkan sesuatu
Di sebuah pondok tua
Peninggalan orangtua Ayah
Sejak dulu memang begitu
Hanya redup-redup
Cahaya sinar lampu duduk
Kala itu
Terdengar tangis pertamaku
Waktu itu Rabu Legi
Beberapa puluh tahun silam
Suara tangisku
Seperti juga suara jangkrik
Terdengar membelah malam
Ibuku coba membujuk
Diusapnya kening hingga kepalaku
Kurasakan belaiannya
Mataku berat sempat terpejam
Lalu aku tertidur
Namun cuma sebentar
Daku terbangun dan menangis lagi
Ibuku resah
Gelisah akan diriku
Tapi bunda tak tahu harus berbuat apa
Kemudian ibu berpaling
(Dalam hati beliau berkata: “Suamiku dimana?”)
Sedari tadi, ibu tidak melihat ayah
Dia mungkin lupa
Malam ini bapak tak pulang
Mungkin besok
Ibu lupa menghitung waktu
Ketika ia palingkan muka dan menatapku
Kubujuk ibu dengan tangisku
(Raut wajahnya berubah sedih
dan tampak gunda)
kembali ibu membelaiku
dengan lirih beliau berucap:
“Anakku. Ayahmu belum juga pulang, Nak...”
Ibu pasrah
- Tanjung Sejaro, OI, Sumatera Selatan
September dan Oktober 1996
- Lampung, 22 Agustus 2011
Benak Bertandang
Bulan sabit telah datang
Seperti malas untuk pulang
Menanti gemerlap bintang
Membawa sinar terang
Disini, benakku bertandang
Bersama suara jangkrik mengiang
Kucoba mengusir kisah usang
Agar tak lagi terkenang
Sinar Banten, 4 September 2011
Seperti malas untuk pulang
Menanti gemerlap bintang
Membawa sinar terang
Disini, benakku bertandang
Bersama suara jangkrik mengiang
Kucoba mengusir kisah usang
Agar tak lagi terkenang
Sinar Banten, 4 September 2011
Debu Kebencian
Meski hati kemarau
biarkan debu kebencian terbang jauh
agar tak menjamah ketenangan jiwa
tidak merasuk sikma
dan merusak kepercayaan
Walau hati kemarau
Jangan biarkan debu kebencian
melumat keyakinan
yang selama ini dikau berikan
karena itu milikmu
Sinar Banten, 8 September 2011
biarkan debu kebencian terbang jauh
agar tak menjamah ketenangan jiwa
tidak merasuk sikma
dan merusak kepercayaan
Walau hati kemarau
Jangan biarkan debu kebencian
melumat keyakinan
yang selama ini dikau berikan
karena itu milikmu
Sinar Banten, 8 September 2011
Serpihan Asa
Serpihan asa
seperti enggan jujur
mengurai kecewa dan luka
yang membekas di hati ini
Serpihan asa
hanya bisa diam
tanpa memberi makna
dalam hidupnya yang tak memberi arti
Serpihan asa
tak mampu berkisah
tentang kegetiran hidup
meski telah menyakitkan
Serpihan asa
walau hanya diam
tapi mencoba untuk memahami
kepahitan dan kesedihan
yang pernah dilalui
seperti enggan jujur
mengurai kecewa dan luka
yang membekas di hati ini
Serpihan asa
hanya bisa diam
tanpa memberi makna
dalam hidupnya yang tak memberi arti
Serpihan asa
tak mampu berkisah
tentang kegetiran hidup
meski telah menyakitkan
Serpihan asa
walau hanya diam
tapi mencoba untuk memahami
kepahitan dan kesedihan
yang pernah dilalui
Rayu Hampa
Terejam
Terbuai rayu hampa
Menyambut goda yang berkarat
Tanpa tahu bakal khianat
Ini pertanda
Luka hati berserah diri
Sesal ditanggung badan
Tak baik dibawa mati
Sinar Banten, 14 September 2011
Terbuai rayu hampa
Menyambut goda yang berkarat
Tanpa tahu bakal khianat
Ini pertanda
Luka hati berserah diri
Sesal ditanggung badan
Tak baik dibawa mati
Sinar Banten, 14 September 2011
Subscribe to:
Comments (Atom)