Friday, 7 October 2011

Anak Lelaki Pertama

Malam jam dua
Suasana sepi dan dingin
Diluar sana, suara jangkrik isyaratkan sesuatu
Di sebuah pondok tua
Peninggalan orangtua Ayah
Sejak dulu memang begitu
Hanya redup-redup
Cahaya sinar lampu duduk
Kala itu
Terdengar tangis pertamaku


Waktu itu Rabu Legi
Beberapa puluh tahun silam
Suara tangisku
Seperti juga suara jangkrik
Terdengar membelah malam
Ibuku coba membujuk
Diusapnya kening hingga kepalaku
Kurasakan belaiannya
Mataku berat sempat terpejam
Lalu aku tertidur


Namun cuma sebentar
Daku terbangun dan menangis lagi
Ibuku resah
Gelisah akan diriku
Tapi bunda tak tahu harus berbuat apa


Kemudian ibu berpaling
(Dalam hati beliau berkata: “Suamiku dimana?”)
Sedari tadi, ibu tidak melihat ayah
Dia mungkin lupa
Malam ini bapak tak pulang
Mungkin besok
Ibu lupa menghitung waktu


Ketika ia palingkan muka dan menatapku
Kubujuk ibu dengan tangisku
(Raut wajahnya berubah sedih
dan tampak gunda)
kembali ibu membelaiku
dengan lirih beliau berucap:
“Anakku. Ayahmu belum juga pulang, Nak...”
Ibu pasrah


- Tanjung Sejaro, OI, Sumatera Selatan
September dan Oktober 1996

- Lampung, 22 Agustus 2011

No comments:

Post a Comment